Kumpulan Cerpen Motivasi
12.33
Add Comment
Kumpulan Cerpen Motivasi Lengkap - Halo apakabar sahabat pembaca semua,bagaimana kabarnya hari ini?semoga dalam keadaan sehat ya, Pada kesempatan yang baik ini penulis akan berbagi beberapa Kumpulan Cerpen Motivasi, yaitu cerpen motivasi ini berisikan motivasi dan semangat untuk menjadi lebih baik lagi, dengan membaca cerpen ini di harapkan dapat memberikan harapan dan semangat baru bagi si pembaca. Silahkan baca cerpen dibawah ini;
![]() |
| Kumpulan Cerpen Motivasi\ |
Kumpulan Pantun Islami Terbaik
Kumpulan Pantun Perpisah Paling Lengkap
KUMPULAN PUISI CAMPURAN TERLENGKAP
Kumpulan Cerpen Motivasi
Robohkan Tembok Itu
Riuh tepuk tangan menandakan berakhirnya pertunjukan drama yang dibawakan oleh beberapa anak dari kelas IX E untuk mewakili kelasnya dalam rangka berpartisipasi untuk perlombaan drama untuk mengisi acara Dies Natalis di sekolahnya. Mata Ariana nampak berbinar melihat teman-temannya berhasil membawakan perannya masing-masing dalam drama dengan sangat menganggumkan. Ini juga pertama kalinya karyanya dapat dilihat banyak orang, sebelum ini karya-karyanya hanya bisa memenuhi hardisk laptopnya saja.
Seseorang menepuk pundak Ariana, Ariana pun menoleh lalu tersenyum mendapati seseorang yang menepuk pundaknya tadi. “Sudah kubilang, drama karanganmu itu keren.” Puji Rahayu sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. “Ah, tidak akan sekeren ini jika teman-teman tidak memerankannya dengan baik.” Jawab Ariana. “Baiklah, aku tahu kamu memang rendah hati. Ayo kita ke belakang pangungg untuk menghampiri teman-teman.” Ajak Rahayu kepada Ariana. Mereka pun berjalan menuju belakang panggung untuk menghampiri teman-teman mereka.
Sesampainya di belakang panggung mereka pun disambut oleh teman-teman mereka yang baru saja menyelesaikan drama. Ariana berterimakasih kepada teman-temannya yang sudah memerankan drama dengan baik, teman-teman Ariana itu pun juga berterimakasih kepada Ariana karena sudah mengarang drama yang keren. “Semoga kita nanti bisa jadi juara.” Kata Aditya salah satu pemeran drama, anak-anak lainnya pun mengaminkan perkataan Aditya.
Di tengah-tengah keramaian dan kesibukan di belakang panggung, Ariana teringat peristiwa 2 minggu yang lalu. Hari ini tidak akan terjadi tanpa adanya peristiwa 2 minggu yang lalu. Saat itu Ariana sedang berdebat hebat dengan sahabatnya, Rahayu.
“Ariana, kamu nggak bisa terus-terusan begini. Kamu tidak bisa hanya memendam bakatmu yang luar biasa ini.” Kata Rahayu. Ariana tidak menjawab, dia hanya berusaha mengambil beberapa lembar kertas yang dibawa oleh Rahayu. “Rahayu, apa kamu masih belum bisa mengerti? Mereka tidak akan mau menerima drama karanganku ini karena karanganku jelek, lagi pula aku tuh tidak pernah dianggap ada oleh mereka.” Kata Ariana. Rahayu pun segera meletakkan kertas-kertas itu di atas lemari kelas yang cukup tinggi sehingga Rahayu yang bertubuh mungil itu tidak bisa mengambilnya. “Cukup, Ariana. Buang ekspektasi burukmu tentang karyamu ini atau pun tentang mereka. Robohkan tembok itu! robohkan batasan itu!” Kata Rahayu.
Ariana pun terdiam, ia memikirkan apa yang dikatakan Rahayu tadi. Mungkin apa yang Rahayu katakan itu benar, dia terlalu berpikiran negatif sehingga ia menjadi pesimis untuk mempublikasikan karyanya. “Bagaimana jika kamu saja yang memberikan naskah drama ini kepada mereka dan katakan kalau ini karyamu?” Tanya Ariana. Rahayu nampak berpikir sejenak kemudian wajahnya berubah cerah karena mendapat sebuah ide. “Baiklah.” Jawab Rahayu singkat lalu ia mengambil lembaran-lembaran kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Meski sedikit curiga dengan sikap sahabatnya itu namun Ariana berusaha mempercayainya.
Keesokan harinya, ketika Ariana baru saja sampai di kelasnya ia langsung dihampiri oleh Aditya. “Hey, ternyata kamu berbakat menulis naskah drama ya. Naskah ini keren lho.” Kata Aditya sambil menunjukkan lembaran naskah drama. Ariana langsung mengambil naskah itu dengan cepat dan itu membuat Aditya terkejut. “Kok kamu tahu aku penulisnya? Oh, pasti dari Rahayu, kan?” Tanya Ariana. “Iya, dari aku.” Sahut Rahayu yang tiba-tiba muncul dari belakang Aditya. “Kok kamu gitu sih?” Tanya Ariana “Memangnya kenapa? Justru hal yang aku lakukan ini tepat kan? Aku nggak mau jadi plagiat.” Jawab Rahayu dengan tegas. “Tenang aja Ariana, kita nggak akan kasih tahu ke pantia atau penonton nanti siapa penulis naskah dramanya. Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak yakin kalau naskah dramamu ini keren?” Kata Aditya. “Itu bukan urusanmu.” Jawab Ariana singkat lalu masuk ke kelas sementara Aditya dan Rahayu hanya diam menatap Ariana yang berjalan ke bangkunya.
“Kamu tahu nggak, sebenarnya yang nggak peduli tuh kamu bukan mereka.” Kata Rahayu, Ariana pun menoleh. “Kamu yang diam saja, kamu nggak bisa terus-menerus menuntut orang untuk memperhatikanmu jika kamu tidak menunjukkan kepada mereka kalau kamu tuh bisa.” Kata Rahayu, Ariana hanya diam mencerna perkataan Rahayu. “Ya, Ariana. Kami yakin kalau karyamulah yang terbaik dan kami akan mementaskankannya nanti.” Sahut Vera teman sekelas Ariana. Ariana pun tersenyum, “Terimakasih karena kalian sudah mempercayaiku, dan maaf kalau selama ini aku hanya diam saja. Baiklah kalau begitu, kita mulai latihan dramanya. Aku sutradaranya, kan?” Kata Ariana, anak-anak pun tersenyum bahagia mendengar perkataan Ariana lalu memulai persiapan untuk drama.
Tibalah saatnya untuk pengumuman juara lomba drama. Semua anak kelas IX-E terlihat tegang menunggu pengumuman juara, apalagi setelah disebutkan harapan 3 sampai juara 3 belum juga mereka mendengar nama kelas mereka disebut. “Juara ke-2 drama adalah…” Kata MC “Kelas IX-F”. Sebagian anak kelas IX-E pun langsung lemas termasuk Ariana namun tidak dengan Rahayu. “Kita pasti juara 1” Kata Rahyu dengan penuh keyakinan. “Mana mungkin?” Tanya Ariana, Rahayu pun menoleh pada Ariana. “Sudah kubilang robohkan tembok pikiran negatifmu itu supaya kamu optimis.” Kata Rahayu. “Juara 1 drama kali ini adalah kelas…” MC memberi jeda yang cukup panjang “IX-E”. Beberapa detik berlalu tidak ada sorakan sampai akhirnya “Yeeeay, kita memang.” Sorak Rahayu tiba-tiba kemudian diikuti teman-teman dari kelas IX-E lainnya kecuali Ariana yang hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. “Ariana, kita menang.” Kata Rahayu. “Iya, aku tahu.” Arina pun memeluk sahabatnya itu sambil berbisik ia mengatakan “Terimakasih sudah membantuku merobohkan tembok itu.” Lalu ia melepas pelukannya, “Itulah gunanya diriku, sahabat.” Jawab Rahayu sambil tersenyum.
SELESAI
Hikmah Ketabahan
Sasmita adalah seorang anak perempuan yang cantik. Rambutnya bergelombang dan hitam sepinggang. Kulitnya berwarna kuning langsat. Wah, cantik sekali ya!.
Namun masalahnya, ia selalu direndahkan dan diejek oleh teman-temannya, karena Sasmita lahir di keluarga yang sangat-sangat tidak mampu. Teman-temannya juga selalu mengejek mimpi besar, impian dan cita-cita Sasmita. Hampir setiap hari, Sasmita mendapat masalah dan cobaan.
Akan tetapi, Sasmita selalu berpegang erat pada pedoman hidup yang diberikan almarhumah ibunya. Yaitu “Hadapi semua cobaan dengan tenang. Karena cobaan akan selalu Allah SWT. berikan kepadamu. Kau perlu berpegang teguh pada kata TABAH. Bukan meminta kepada Allah supaya kita tak diberi cobaan. Ingat! Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya!” itulah salah satu nasehat ibunya yang Sasmita jadikan pedoman hidupnya.
Oh iya, sehari-hari, Sasmita berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjual Telur Goreng Rempah-rempah. Sebenarnya, Sasmita bercita-cita untuk menjadi seorang chef atau koki yang handal dan terkenal. Oleh sebab itu, Sasmita selalu berlatih memasak dengan penuh semangat, agar impiannya tercapai. Tak dipedulikannya cemooh yang dilontarkan dari mulut teman-temannya.
Beberapa tahun kemudian, cita-cita Sasmita akhirnya terwujud. Banyak sekali perubahan dalam hidupnya. Dulu ia sendiri, kini ia ditemani sahabat-sahabatnya sesama koki. Intinya, kehidupannya berubah 180 derajat. Ia juga menjadi koki handal yang mendunia. Itulah hikmah dari ketabahan. Yang Sasmita rasa, sangat berpengaruh pada kehidupannya di masa datang.
SEKIAN
Aku Pantas Dianggap
Kami hanya diam membisu tanpa sepatah kata pun, setelah kami berdebat dengan Aini cs masalah kelompok bahasa Perancis. Padahal, kami yang lebih dulu mendaftar pada kelompok Aini dibandingkan mereka. Entahlah, apa yang ada di benak mereka sehingga berhasil menyingkirkan kami dan memenangkan perdebatan itu. Yang dimaksud “kami”, adalah aku dan teman sebangkuku, yang bernama Fani.
“Kamu ngerasa enggak si Yun? Kalo kita enggak dianggap?” tanya Fani padaku. Yun? Namaku bukan Yuyun ataupun Yuni. Namaku adalah Ayunda Putri.
“Kan aku udah pernah bilang, ibarat kata kita cuma numpang duduk ama numpang belajar.” ucapku sambil memandang Vanda yang termasuk dalam kelompok Aini cs. Yah, memang seperti itulah kelasku pada kenyataannya. Yang dianggap hanya yang memiliki kelebihan dengan embel-embel kata “wow”. Seperti Vanda si Juara Satu, Resa si Juara Dua, Sari si Juara Tiga, Mutia yang menjabat sebagai si Ratu Cantik di kelas, Khoril si cowok yang selalu menang lomba apapun.
“Aku capek, Yun. Aku pengen menjadi bagian dari kelas ini.” ujar Fani.
“Ya udah, kalo gitu kita buktiin aja kalo kita pantas dianggap.”.
Semenjak hari itu, aku dan Fani berusaha untuk tidak lagi mengandalkan mereka (teman-teman sekelas kami). Aku tak lagi bertanya jawaban jika terdapat soal, hanya saja bertanya mengenai caranya. Jika tak ada orang yang mau menjelaskan, maka kuberanikan diri bertanya pada guru. Itu pun kulakukan jika sudah tak ada cara lain, sebab aku bukanlah siswi yang aktif bertanya. Hal itu juga kulakukan dengan penuh perjuangan, sebab aku adalah seorang introvert yang bukan dengan mudah memberanikan diri dan bisa bersosialisasi dengan orang lain tanpa perjuangan. Meski hanya berusaha memperbaiki nilai tanpa mengandalkan orang lain, aku tetap menjadi diriku sendiri, tanpa berusaha menjadi mereka yang berkategori, seperti Vanda, Resa, Sari, dan lain lain.
Hari demi hari kulalui dengan masih berpegang teguh pada prinsip tidak mengandalkan orang lain. Yah, semakin lama aku merasa lebih baik menjalani hidup seperti ini. Hingga tak terasa bertahun-tahun sudah aku meninggalkan SMA tercinta yang telah terukir dalam sejarah hidupku. Memang tak ada yang istimewa. Tetapi dalam ingatanku, ada sebuah pelajaran berharga yang membuatku harus berpegang teguh pada prinsipku saat ini. Mungkin, tanpa prinsip itu aku akan tetap zero di mata mereka, saat masih SMA atau bahkan hingga sekarang.
Saat ini, kedua kakiku telah sampai di suatu tempat, di mana aku akan bertemu kembali dengan mereka, teman-teman SMA seangkatanku. Yah, di sebuah acara reuni.
“Ayunda, apa kabar?” tanya Weni padaku.
“Baik Wen. Kamu sendiri gimana?”.
“Aku juga baik. Eh, aku udah baca beberapa bukumu, menurutku itu sangat menginspirasi”. Aku hanya tersenyum.
“Thank you”.
Saat tengah asyik mengobrol, seseorang memanggilku. Aku senang sekali dapat bertemu dengannya lagi, Fani. Kami saling melepas rindu.
“Hai Fan, Yun. Apa kabar?” sapa April pada kami.
“Baik. Aku kira, gak ada yang inget sama kita.” ucap Fani.
“Gimana mungkin bisa lupa? Dulu kan, kalian sering ngajarin aku soal atau materi yang aku enggak paham.” ujar April. Hanya itulah yang bisa kami lakukan semasa SMA. Walaupun kami bukanlah termasuk orang berkategori, setidaknya kami masih membekas dalam memory mereka. Mungkin jika aku tak berubah atau tak memegang prinsip itu, yang muncul bukanlah pertanyaan mengenai sapaan, pujian, dan lain lain. Melainkan pertanyaan, “Kamu siapa?”, “Kamu pernah sekolah di sini juga?”, “Kamu dateng juga to? Aku kira enggak dateng.” dan lain sebagainya.
Setelah berbincang-bincang, kami pun ikut bergabung dengan teman-teman lainnya.
SEKIAN
Demikianlah Kumpulan Cerpen Motivasi,semoga dapat membantu dan memberi motivasi dan semangat bagi sahabat pembaca semua. Terimaksih

0 Komentar untuk artikel "Kumpulan Cerpen Motivasi"
Posting Komentar